Buat Apa Kuliah?

Sekitar tahun 2008, suatu sore di ruang kuliah 2 FISIP UPM, saya pernah membuat sebuah hitungan sederhana. Kala itu dosen tak hadir mengajar, praktis saya "menganggur". Hitungan yang saya buat bukan soal anggaran kampus, tapi tentang durasi belajar kita di perkuliahan. Dan hasilnya, bikin kaget juga.

Intinya begini. Coba hitung, dalam satu semester untuk satu mata kuliah, rata-rata berapa kali pertemuan? Standarnya, 16 kali pertemuan. Tapi jika mahasiswa hadir terus dan dosen juga selalu ada. Belum lagi jika ada agenda liburan. Baik karena pascaujian, peringatan hari besar, hujan deras atau gara-gara listrik mendadak padam. Jadi, anggaplah rata-rata 13 kali tatap muka.

Nah, setiap kali tatap muka, berapa lama? 2 jam? Ah, yang benar saja. Kisaran standar yang saya alami, 2 jam itu maksimal banget. Dan jarang sekali. Yang jelas, durasi ini seharusnya memang bergantung pada bobot SKS mata kuliah yang diambil. Tapi faktanya, yang kerap dijadikan tolok ukur adalah soal ketepatan waktu. Kalau dimulainya molor, hampir pasti waktu kuliah akan lebih pendek. Setidaknya 1 jam itu bagus, karena tak jarang justru kurang dari itu. Iya/ nggak? Ya sudahlah, kita sepakati saja rata-rata butuh waktu 1 jam setiap kali tatap muka.

Jadi dalam satu semester, total waktu pertemuannya berapa jam? Mudah saja, tinggal 13 x 1 = 13 jam. Ya, benar, 13 jam alias setengah hari saja (nggak sampai 24 jam, bro). Dan tolong jangan lantas beranggapan bahwa 13 jam ini akan berlaku efektif semua.

Sebagai contoh, untuk mata kuliah Sosilogi Pembangunan. Bisa jadi, saat awal tatap muka, agendanya adalah perkenalan; terlebih bagi mahasiswa dan dosen baru. Pertemuan kedua, bicara soal "definisi sosiologi pembangunan"; mengulas sejumlah pendapat tokoh. Pertemuan ketiga, "cabang-cabang sosiologi pembangunan". Dan seterusnya. Intinya, yang kita dapat seringkali cakupannya sempit. Sedikit saja.

Selanjutnya mari kita buat hitungan dalam ranah biaya. Jika SPP perbulan Rp 250.000,- maka dalam satu semester atau 6 bulan (boleh baca: 13 jam), kita harus merogoh kocek sebesar Rp 1.500.000,- Ya, inilah angkanya.

Kemudian saya ingin membuat perbandingan. Bagaimana seandainya kita menghabiskan waktu 13 jam itu untuk membaca buku-buku literatur? Ya, bacalah buku-buku literatur (contoh: tentang Sosiologi Pembangunan itu) dalam waktu 13 jam sekaligus? Atau jika sehari @ 2 jam, maka setidaknya butuh waktu 6 hari. Lantas, bandingkan dengan yang kita dapat di bangku kuliah dalam waktu satu semseter atau 6 bulan. Dengan cara yang manakah kita bisa memperoleh lebih banyak ilmu?

Yap, jangan kaget. Inilah yang  saya sebut sebagai wujud nyata "konspirasi" pendidikan tinggi. Namun kita tak bisa mengutuk sistem ini, karena bagaimanapun perguruan tinggi masih dianggap sebagai wahana resmi membidani lahirnya para intelektual.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah: dalam hal berkuliah, jangan mengandalkan tatap muka dengan dosen! Dan lantas menyalahkan dosen jika beliau tak bisa selalu hadir (tapi kalau dosennya terlampau sering bolos, ya harus diinterupsi juga...).

Perbanyaklah membaca dan berdiskusi dengan sesama mahasiswa (bisa melalui organisasi) dan dosen di luar jam kuliah. Dengan cara ini, hari-hari berkuliah akan lebih bermakna. Dan tentu saja, ilmu yang kita dapat bakal lebih berlimpah. Insya Allah.

Nah, kalau hanya mengandalkan tatap muka di kelas, buat apa kuliah? Segera drop out saja dan alihkan dana untuk memborong buku. Gitu aja koq repot?! :-) [*]
Share this article :
Comments
2 Comments

+ komentar + 2 komentar

21 November 2014 10.42

wkwkwkwk bener juga yah. aku masih belum menghitung tuh jam setiap pertemuan. :)
UPM

21 Mei 2015 12.18

hnya org bodoh yg mau drop out kuliah , mending kuliah lumayan bisa nyari kerja yg sesuai penghasilan yg kita harapkan . masalah pengen kuliah gk ada uang coba masuk bidik misi or jalur prestasi kali aja masuk .

Posting Komentar

Bagi pengunjung yang tidak menggunakan akun facebook, silakan berkomentar di sini. Terima kasih atas kunjungan dan respons Anda. :-)

 
Dukungan Teknis : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kang Hermanto - All Rights Reserved
Disponsori oleh Sego Burger dan Protokola Consulting
Dipersembahkan oleh Blogger