Cuplikan
print this page
Terkini

Akhirnya Saya Berkuliah (Lagi)

Setelah menimang dalam waktu yang tak singkat, saya akhirnya membuat sebuah keputusan. Yakni keputusan tentang kelanjutan studi pascasarjana.

Setelah pada 2013 lalu tidak jadi mengikuti seleksi beasiswa Pusbindiklatren Bappenas, sebenarnya di Agustus 2015 saya mencoba untuk mengajukan diri lagi. Persyaratan online sudah saya penuhi, termasuk meng-upload dokumen yang disyaratkan.

Namun sejarah berulang. Saya (lagi-lagi) tidak jadi melanjutkan proses tersebut. Kali ini bukan persoalan izin, melainkan gara-gara harus mengikuti pelantikan sebagai pejabat eselon IV.

Ya, tak dinyana, di penghujung bulan yang sama, saya dilantik menduduki jabatan sebagai Kasubbag Protokol. Kenyataan ini lantas membuat saya berpikir ulang soal studi.

Jika terus melanjutkan seleksi, maka (seandainya) dinyatakan lulus, saya akan meninggalkan pekerjaan. Untuk tugas belajar. Namun hal ini tak mungkin saya lakukan, mengingat baru diamanahi di tugas baru yang saya ceritakan tadi.

Finally, saya memutuskan berkuliah di Magister Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pertimbangan utama, karena dapat saya tempuh di akhir pekan dan prodinya terakreditasi A.

Mohon do'anya ya, semoga studi saya lancar dan beroleh hasil terbaik. Aamiin. [*]

Botol dan Manusia

Kalau diisi air mineral, harganya 3 ribu…
Kalau diisi jus buah, harganya 10 ribu…
Kalau diisi Madu Yaman, harganya ratusan ribu…
Kalau diisi minyak wangi chanel harganya bisa jutaan...
Kalau diisi air got, hanya akan dibuang dalam tong sampah karena langsung tiada harganya dan tidak ada siapa yang suka...

Botol yang sama tetapi harganya berbeda sebab apa yang terisi di dalamnya adalah berbeda.

Begitu juga kita. Kita semua sama. Kita semua manusia. Yang membedakan kita antara satu sama lainnya adalah TAQWA , IMAN & AMAL yang ada dalam diri kita. Yang akan menyebabkan kita berharga di sisi ALLAH atau kita dipandang hina oleh ALLAH lalu dibuang ke dalam neraka.


“……sesungguhnya orang yg paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti." (TQS. al-Hujurat: 13) [*]

Sumber: Tausiyah Kawan

Rejeki Banyak Bentuknya

Kemarin hujan mulai jam 9 pagi, seorang tukang rujak numpang berteduh di teras ruko saya. Masih penuh gerobaknya, buah-buah tertata rapi. Kulihat beliau membuka buku kecil, rupanya Al Quran. Beliau tekun dengan Al-Qurannya. Sampai jam 10 hujan blm berhenti.

Saya mulai risau karena sepi tak ada pembeli datang. Saya keluar memberikan air minum.
“Kalau musim hujan jualannya repot juga ya, Pak… Mana masih banyak banget.”

Beliau tersenyum, “Iya bu.. Mudah-mudahan ada rejekinya...” jawabnya.

“Aamiin,” kataku.

“Kalau gak abis gimana, Pak?” tanyaku.

“Kalau gak abis ya risiko, Bu.., kayak semangka, melon yang udah kebuka ya kasih ke tetangga, mereka juga seneng daripada kebuang. kayak bengkoang, jambu, mangga yang masih bagus bisa disimpan. Mudah-mudahan aja dapet nilai sedekah,” katanya tersenyum.

“Kalau hujan terus sampai sore gimana, Pak?” tanyaku lagi.

“Alhamdulillah bu… Berarti rejeki saya hari ini diizinkan banyak berdoa. Kan kalau hujan waktu mustajab buat berdoa bu…” Katanya sambil tersenyum.
“Dikasih kesempatan berdoa juga rejeki, Bu…”

“Kalau gak dapet uang gimana, Pak?” tanyaku lagi.

“Berarti rejeki saya bersabar, Bu… Allah yang ngatur rejeki, Bu… Saya bergantung sama Allah.. Apa aja bentuk rejeki yang Allah kasih ya saya syukuri aja. Tapi Alhamdulillah, saya jualan rujak belum pernah kelaparan.

“Pernah gak dapat uang sama sekali, tau tau tetangga ngirimin makanan. Kita hidup cari apa Bu, yang penting bisa makan biar ada tenaga buat ibadah dan usaha,” katanya lagi sambil memasukan Alqurannya ke kotak di gerobak.

“Mumpung hujannya rintik, Bu… Saya bisa jalan. Makasih yaa, Bu…”

Saya terpana… Betapa malunya saya, dipenuhi rasa gelisah ketika hujan datang, begitu khawatirnya rejeki materi tak didapat sampai mengabaikan nikmat yang ada di depan mata.

Saya jadi sadar bahwa rizki hidayah, dapat beribadah, dapat bersyukur dan bersabar adalah jauh…jauh lebih berharga daripada uang, harta dan jabatan… [*]

Diceritakan oleh Yeti Haryati

Insiden Tolikara, Sebuah Pembangkangan atas Negara

Sejak 1 Syawal 1436 H lalu, kita diriuhkan oleh peristiwa pembakaran Masjid Baitul Muttaqin di Karubaga Kabupaten Tolikara - Papua oleh massa pengikut Gereja Injili DI Indonesia (GIDI). Berita berseliweran di tengah-tengah kita, dikabarkan oleh bermacam media dengan beragam versi.

Mayoritas media arus utama menyiarkan bahwa sesungguhnya di sana tak ada hal yang serius. Jadi jangan terprovokasi apalagi tersulut emosi sentimen agama. Benarkah demikian?

Di sisi lain, ummat Islam Indonesia tentu saja kaget atas peristiwa tersebut. Sehingga direspons cepat oleh sejumlah tokoh islam nasional dengan membentuk Komat (Komite Ummat) Tolikara. Komite yang diketuai Ust. Bachtiar Nasir ini lantas mengutus tim pencari fakta untuk mengusut tragedi tersebut.

Tim dikomandoi oleh Ust. Fadhlan Garamathan yang asli Papua. Komite ini juga menghimpun dana ummat melalui jaringan lembaga zakat untuk pembangunan kembali masjid yang telah rata dengan tanah tersebut. Melihat respons ini, tentu saja aksi pembakaran masjid ini serius.

Nah, saya melihat memang sedang ada kesimpangsiuran dalam kasus ini. Banyak pihak, termasuk mereka yang di lingkaran istana memandang biasa saja peristiwa berbau SARA tersebut. Mulai dari juru bicara presiden sampai sejumlah menteri terkait, semisal Menhan dan Mendagri.

Padahal jelas terlihat bahwa rangkaian peristiwa ini cukup sistemik. Dimulai dari adanya Perda tentang tata cara beribadah dan pendirian rumah ibadah yang bermutan SARA. Lalu beberapa hari sebelum peristiwa, beredar surat Pekerja Wilayah Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Tolinomor 90/SP/GIDI-WT/VII/2015 tentang larangan berjilbab dan perayaan Idul Fitri di Karubaga. Kemudian puncaknya, meletuslah aksi pembakaran masjid tersebut.

Oleh banyak media, tragedi ini tak diberitakan se-bombastis ketika ada peristiwa semacam ini yang menimpa gereja. Tak sedikitpun terdengar kata "tindak terorisme" atas insiden Tolikara ini. Pun disampaikan bahwa yang terbakar itu cuma musholla, bukan masjid. Parahnya lagi, pembakaran itu sebenarnya tak sengaja. Massa membakar kios lalu mengenai musholla (baca: seharusnya masjid). 

Belum tuntas investigasi yang dilakukan aparat di lapangan, media-media mayor seolah sudah menyimpulkan dan begitu kompak memberitakan seperti itu. Padahal membakar kios saja sudah salah, apalagi menghanguskan toko-toko dan masjid?!

Pastinya, menurut saya, tragedi ini bukti sebuah pembangkangan atas legitimasi negara. Pemerintah daerah seyogyanya tidak menerbitkan sebuah aturan yang berbau SARA, tepatnya soal pelarangan terkait pelaksanaan ibadah ummat agama tertentu. Mereka sudah merangsek urusan terlalu dalam dan abai terhadap demokratisasi.

Surat yang dilayangkan oleh jemaat GIDI itupun melengkapi pembangkangan ini. Sebuah tindakan sepihak yang menggilas kebhinnekaan yang selama kerap digaungkan. Ini sebuah tindakan tiran atas minoritas yang tak boleh terjadi. Apapun alasannya. Karena sudah jelas, surat tersebut melanggar HAM (Hak Azasi Manusia).

Di balik itu semua, kita lantas mendapati hal tak lazim. Yakni bertebarannya bendera dan lambang negara Israel di banyak penjuru Tolikara. Ditambah pula banyaknya misionaris asing yang berseliweran. Lalu, apakah ini menandakan bahwa insiden Tolikara tak lepas dari propaganda asing?

Jika mengaitkannya dengan isu separatisme yang selama ini digaungkan oleh OPM (Organisasi Papua Merdeka) dan maraknya aksi di luar negeri terkait kemerdekaan Papua, maka hipotesa ini ada benarnya. Pembakaran masjid hanyalah sebuah baju baru untuk 'perjuangan' itu. Benar tidaknya, kita simak saja kelanjutan kasus ini. [*]
 
Dukungan Teknis : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kang Hermanto - All Rights Reserved
Disponsori oleh Sego Burger dan Protokola Consulting
Dipersembahkan oleh Blogger